Dosen Biokimia S2 Pendidikan Kimia UNG Bahas MBG: Antara Nutrisi Sehat dan Potensi Keracunan

Oleh: Akram La Kilo . 18 Oktober 2025 . 14:01:31

Gorontalo, 18 Oktober 2025 - Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis dan Reuni Akbar Kimia UNG menghadirkan Dr. Yuszda K. Salimi, M.Si., dosen Biokimia sekaligus peneliti di bidang kimia pangan, sebagai narasumber utama.Pada kesempatan ini, Dr. Yuszda membawakan materi bertajuk “MBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Nutrisi Sehat dan Potensi Keracunan, Tinjauan Kimia dalam Kesehatan Siswa.”

Dalam paparannya, Dr. Yuszda menguraikan secara mendalam kebijakan nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan pada awal tahun 2025 sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan status gizi anak sekolah di seluruh Indonesia. Program ini tercatat telah menjangkau lebih dari 17,9 juta siswa dengan total anggaran sekitar Rp5,1 triliun. Meski demikian, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keamanan pangan.

Berdasarkan hasil investigasi tim peneliti UGM, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum memiliki Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) dan belum menerapkan sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) secara menyeluruh. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap beberapa kasus keracunan makanan di berbagai daerah, dengan lebih dari 11.000 siswa terdampak.

Melalui perspektif kimia dan biokimia, Dr. Yuszda menyoroti berbagai titik kritis bahan pangan dalam menu MBG yang berpotensi menimbulkan bahaya apabila tidak dikelola dengan benar, di antaranya:

  • Nasi yang disimpan terlalu lama dapat menghasilkan toksin Bacillus cereus,
  • Ayam pada suhu ruang bisa membentuk amin biogenik dan nitrosamin,
  • Telur yang tidak matang sempurna berpotensi mengalami oksidasi lemak,
  • Tempe/tahu dengan pengawet ilegal dapat menimbulkan gangguan hati dan ginjal,
  • Sayuran dengan residu pestisida dapat menghambat aktivitas enzim saraf.

Menurut Dr. Yuszda, proses produksi makanan sekolah perlu diawasi secara ketat di setiap tahap — mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.

“Kunci utamanya adalah higiene, kontrol kualitas, dan edukasi, baik kepada penyedia makanan maupun pihak sekolah,” tegasnya.Mendorong Pengawasan dan Edukasi Berkelanjutan Dr. Yuszda juga merekomendasikan agar seluruh SPPG diwajibkan memiliki SLHS serta mendapatkan pelatihan rutin dalam penerapan sistem HACCP. Ia menambahkan, mahasiswa kimia juga memiliki peran penting dalam kegiatan edukasi masyarakat untuk mendeteksi keberadaan bahan berbahaya seperti logam berat, formalin, boraks, dan pestisida pada bahan pangan.

Seminar nasional yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa, dosen, dan alumni Program Studi Kimia. Kegiatan berlangsung dalam suasana interaktif, di mana peserta aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan seputar keamanan pangan, gizi, dan relevansinya terhadap kesehatan siswa.

Melalui kegiatan ini, UNG menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kajian ilmiah yang berkontribusi langsung terhadap masyarakat. Seminar ini diharapkan dapat menjadi ruang reflektif bagi akademisi untuk memperkuat keterkaitan antara ilmu kimia, gizi, dan kebijakan publik, serta memperkuat peran ilmuwan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan berdaya saing.

Informasi

Agenda

12 Desember 2025

Thesis Examination for Melinda S. Gani

Thesis Examination for Melinda S. Gani
Title: Student Concept Mastery and Scientific Literacy Profile on Redox Concepts in Senior High Schools in North Gorontalo
The examination will be held starting at 09.00 WITA, in Room 1.1, Graduate Program, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).