Penerapan Sumber Daya Alam Lokal dalam Pembelajaran Pendidikan Kimia: Studi Kasus Pengembangan Tanaman Sacha Inchi di Desa Tabongo Timur

Oleh: Akram La Kilo . 21 Juni 2025 . 12:58:58

Pengembangan tanaman Sacha Inchi (Plukenetia volubilis) yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Desa Tabongo Timur, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa Magister Pendidikan Kimia UNG. Kegiatan ini merupakan contoh nyata bagaimana sumber daya alam lokal dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan kimia, serta menjadi sarana pengajaran yang relevan dengan tantangan global saat ini.

Sacha Inchi, yang dikenal dengan nama kacang Peru atau kacang Inca, telah dibudidayakan di berbagai negara di Asia, termasuk Cina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Di Indonesia, tanaman ini mulai dikembangkan dalam lima tahun terakhir, salah satunya di Desa Tabongo Timur. Tanaman ini memiliki banyak manfaat kesehatan, terutama karena kandungan gizinya yang kaya, termasuk asam lemak tak jenuh omega-3, omega-6, dan omega-9, serta vitamin E dan A. Selain itu, minyak dari biji Sacha Inchi juga dikenal memiliki sifat antioksidan yang baik untuk menjaga kestabilan glukosa dan kolesterol darah.

Dalam konteks pendidikan kimia, pengembangan Sacha Inchi ini menjadi sangat relevan, mengingat tanaman ini mengandung berbagai senyawa kimia yang memiliki manfaat besar bagi kesehatan manusia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa pendidikan kimia dapat mempelajari berbagai konsep kimia yang berkaitan dengan proses budidaya tanaman, ekstraksi minyak, serta analisis kandungan gizi dan kimia dalam Sacha Inchi. Hal ini memberikan mereka kesempatan untuk mengaitkan teori kimia yang mereka pelajari dengan aplikasi langsung di lapangan.

Dr. Yuszda K. Salimi, dosen UNG yang juga merupakan ketua pelaksana kegiatan ini, menjelaskan bahwa kegiatan pemberdayaan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana ilmu kimia dapat diterapkan dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. "Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang kimia dalam konteks teori, tetapi juga dalam konteks praktis yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal," ungkap Dr. Yuszda.

Kegiatan ini melibatkan sosialisasi, edukasi, dan pelatihan kepada mitra yang terdiri dari Kelompok Tani Hutakiki Jaya, anggota BumDes, serta Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. Melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), mahasiswa diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat desa dan memberikan pelatihan terkait budidaya serta penanganan pasca panen Sacha Inchi. Selain itu, mahasiswa juga terlibat dalam pelatihan mengenai inovasi produk Sacha Inchi, seperti minyak, susu, selai, dan snack bar, yang dapat menambah nilai ekonomi dari hasil pertanian lokal.

Pemberdayaan yang dilakukan oleh tim pelaksana ini juga mencakup penyerahan 1000 bibit unggul Sacha Inchi dan peralatan pertanian untuk pengolahan tanaman, termasuk mesin pengolahan minyak. Hal ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memberikan mahasiswa wawasan praktis tentang proses produksi dan manajemen yang dapat diterapkan dalam konteks industri kecil dan menengah.

Pemberdayaan Desa Binaan ini dijadwalkan berlangsung hingga tahun 2026, dengan berbagai kegiatan pelatihan yang mencakup manajemen produksi, pengemasan, dan komersialisasi produk industri. Program ini memberi peluang besar bagi mahasiswa Magister Pendidikan Kimia untuk memanfaatkan pengetahuan kimia mereka dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan memperdalam pemahaman mereka tentang penerapan ilmu kimia dalam masyarakat.

Kegiatan ini mencerminkan visi Program Studi Magister Pendidikan Kimia UNG yang berfokus pada pengembangan ilmu kimia berbasis pada kearifan lokal dan aplikasinya dalam kehidupan nyata. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan dalam profesi mereka sebagai pendidik, peneliti, dan penggerak perubahan dalam masyarakat.

Agenda